Tegas Gagasan Keadilan Masyarakat
banner 728x250

BBM NAIK TAJAM! Dampak Konflik Timur Tengah, Harga Solar & Turbo Melejit

TegakNews.ID – Jakarta, Gelombang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akhirnya tak terbendung. Mulai Sabtu, 18 April 2026, sejumlah SPBU di Indonesia resmi mengerek harga jual, terutama untuk BBM nonsubsidi. Lonjakan ini bukan sekadar penyesuaian biasa melainkan efek domino dari gejolak energi global akibat konflik panas di Timur Tengah yang mengguncang harga minyak dunia.

Perusahaan energi pelat merah PT Pertamina (Persero) bersama operator lain seperti BP mulai melakukan penyesuaian harga di berbagai lini produk. Namun di tengah kenaikan ini, SPBU Vivo masih terlihat menahan harga, sementara jaringan Shell justru dilaporkan mengalami krisis stok bahan bakar.

Kenaikan paling mencolok terjadi pada BBM jenis diesel dan bensin beroktan tinggi. Di wilayah seperti Jawa Barat, harga Pertamax Turbo melonjak drastis dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter naik Rp6.300 sekaligus. Lebih mengejutkan lagi, Dexlite dan Pertamina Dex melesat hingga Rp9.400, menembus kisaran Rp23.600 hingga Rp23.900 per liter. Ini menjadi lonjakan tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Ironisnya, di saat harga BBM nonsubsidi meroket, beberapa jenis lain justru “ditahan”. Pertamax masih bertahan di Rp12.300 per liter, dan Pertamax Green 95 tetap Rp12.900. Pemerintah juga memastikan BBM subsidi tidak ikut naik Pertalite tetap Rp10.000 dan Biosolar bertahan di Rp6.800 per liter, sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat.

Namun realitas di lapangan berkata lain. Kenaikan BBM nonsubsidi tetap berpotensi memicu efek berantai dari ongkos logistik hingga harga kebutuhan pokok. Apalagi, kondisi global belum menunjukkan tanda stabil, dengan jalur distribusi energi dunia terganggu akibat konflik geopolitik yang belum mereda.

Di sisi lain, disparitas harga antarwilayah juga semakin terasa. Di luar Pulau Jawa, harga BBM bisa lebih tinggi karena faktor distribusi dan pajak daerah. Bahkan di beberapa wilayah, harga Pertamina Dex hampir menyentuh Rp25.000 per liter angka yang makin menekan sektor transportasi dan industri.

Situasi ini menjadi alarm serius bagi perekonomian nasional. Jika tren kenaikan energi global terus berlanjut, bukan tidak mungkin gelombang penyesuaian harga berikutnya akan kembali terjadi dan dampaknya bisa lebih luas.

“Kenaikan ini bukan sekadar angka, tapi sinyal bahwa tekanan global kini benar-benar terasa hingga ke tangki kendaraan rakyat. (Zainal)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *