TegakNewsID – Jakarta, Kapala Puskesmas Kecamatan Cengkareng, dr.Parlyn Rap Demak Situmorang, M.P.H. Sabtu (25/4/2026) mengatakan bahwa kami tetap koordinasi ke linsek ( camat dan lurah) terkait pemantauan dan pengendalian DBD diwilayah serts terus memastikan kesiapan layanan kesehatan dalam penanganan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), termasuk koordinasi dengan rumah sakit rujukan apabila ditemukan pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan.
“Selain itu, Puskesmas juga aktif melapor dan berkoordinasi dengan pihak kecamatan, kelurahan, hingga RT/RW guna memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian DBD di lingkungan masyarakat” ujar dr Parlyn.
Kepala Puskesmas dr Parlyn menegaskan, respons cepat menjadi langkah utama apabila ditemukan kasus DBD. Petugas kesehatan akan segera melakukan penanganan kasus, dilanjutkan dengan Penyelidikan Epidemiologi (PE) untuk mengetahui sumber penularan serta potensi penyebaran di lingkungan sekitar.
“Jika ditemukan kasus, kami langsung melakukan respons cepat, termasuk PE dan fogging fokus sebanyak dua siklus untuk memutus rantai penularan,” ujarnya.
Selain fogging, Puskesmas juga melakukan abatisasi pada tempat penampungan air yang berisiko menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti. Upaya ini diperkuat dengan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) massal yang menjadi inti pengendalian DBD.
Setiap Jumat, tim Puskesmas Kelurahan dan Puskesmas Kecamatan turut turun langsung ke lapangan untuk melaksanakan PSN bersama warga.
Masyarakat juga terus diedukasi mengenai pentingnya menerapkan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, mengubur barang bekas yang dapat menampung air, serta penggunaan larvasida untuk mencegah perkembangan jentik nyamuk.
Di sisi lain, surveilans kesehatan terus diperkuat melalui pembaruan data harian dan pemantauan tren mingguan guna mendeteksi peningkatan kasus secara dini.
Puskesmas Cengkareng juga memastikan kesiapan manajemen klinis bagi pasien DBD, termasuk koordinasi intensif dengan rumah sakit rujukan agar proses penanganan dapat berjalan cepat dan tepat.
Edukasi kepada masyarakat dilakukan secara langsung di layanan kesehatan maupun melalui media sosial. Informasi yang disampaikan meliputi gejala DBD dan tanda bahaya seperti muntah terus-menerus, perdarahan, tubuh lemas, hingga penurunan kesadaran.
“Koordinasi dengan rumah sakit rujukan juga dipastikan berjalan baik agar pasien dengan kondisi berat bisa segera mendapatkan penanganan lanjutan,” katanya.
Untuk memperkuat pengendalian DBD, Puskesmas juga mendorong kolaborasi lintas sektor dengan melibatkan kecamatan, kelurahan, RT/RW, PKK, sekolah, serta berbagai unsur masyarakat.
Kerja bakti lingkungan secara terjadwal terus diusulkan, termasuk pemantauan tempat-tempat umum seperti kontrakan, gudang, dan area yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Dengan langkah terpadu ini, Puskesmas berharap angka kasus DBD dapat ditekan serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan semakin meningkat. (Tom)
