Dalam sejarah kesusastraan Indonesia Modern, nama Pramoedya Ananta Toer hampir selalu hadir dalam daftar nama teratas. Bagi banyak orang, ia bukan hanya sekadar penulis novel, melainkan saksi hidup dari masa-masa paling keras dalam sejarah Indonesia.
Kehidupan Pramoedya Ananta Toer berjalan berdampingan dengan penjara, pelarangan buku, dan pergolakan politik. Tetapi justru dari situ lahirlah karya-karya yang kemudian dianggap sebagai bagian terpenting dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern.
Pramoedya lahir di Blora pada tahun 20 Februari 1925, saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Ayahnya seorang guru, dan sejak muda ia sudah dekat dengan dunia pendidikan serta buku buku bacaan.
Ketika Perang Dunia II pecah dan Jepang menduduki Indonesia, Pramoedya muda pergi ke Jakarta. Di sana ia bekerja sebagai juru ketik. Masa itu menjadi salah satu periode yang paling membentuk cara pandangnya terhadap kolonialisme, kekuasaan, dan kehidupan rakyat kecil.
Saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, Pramoedya ikut bergabung dengan kelompok nasionalis. Ia bekerja di sebuah radio dan media perjuangan. Namun situasi perang membuat hidupnya tak tenang. Pada tahun 1947, ia ditangkap oleh Belanda dan dipenjara selama sekitar dua tahun.
Di balik penjara itulah ia mulai menulis novel pertamanya, Perburuan. Novel itu berkisah tentang seorang pejuang yang diburu setelah melawan Tentara Jepang. Novel itu bukan hanya bercerita tentang perang, tetapi juga tentang ketakutan, pengkhianatan, dan tentang kehidupan anak manusia yang terperangkap oleh keadaan.
Setelah Indonesia merdeka, nama Pramoedya mulai dikenal luas. Ia menulis banyak cerita tentang rakyat biasa, kehidupan desa, kemiskinan, hingga luka revolusi. Karyanya seperti Keluarga Gerilya dan Cerita dari Blora membuat banyak pembaca merasa dekat dengan tulisannya.
Bahasa Pramoedya terkenal lugas, tetapi kuat. Ia kerap menggambarkan kehidupan masyarakat kecil tanpa membuatnya terasa berlebihan.
Namun perjalanan hidupnya kembali berubah pada akhir 1950-an. Pramoedya mulai dekat dengan kelompok kiri dan bersimpati pada Partai Komunis Indonesia atau PKI. Kedekatan itu kemudian menjadi masalah besar setelah pecah tragedi politik 1965.
Dalam penumpasan besar-besaran terhadap orang-orang yang dianggap terlibat PKI, Pramoedya ikut ditangkap tentara. Ia dipenjara tanpa proses pengadilan dan kemudian dibuang ke Pulau Buru selama bertahun-tahun.
Di tempat terpencil itu, ia kembali menulis.
Karena tidak selalu memiliki alat tulis, sebagian kisah awalnya bahkan diceritakan secara lisan kepada sesama tahanan. Dari masa inilah lahir karya yang kemudian dianggap mahakaryanya: Tetralogi Buru.
Seri novel itu terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.
Lewat tokoh Minke, Pramoedya menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa pada masa kolonial Belanda: tentang pendidikan, diskriminasi, kebangkitan nasionalisme, dan lahirnya kesadaran melawan penjajahan.
Novel-novel itu mendapat pujian luas, bahkan sampai ke luar negeri. Tetapi di Indonesia, buku-buku tersebut sempat dilarang beredar oleh pemerintah Orde Baru karena dianggap berbahaya secara politik.
Meski sudah bebas dari penjara pada tahun 1979, Pramoedya masih dikenai tahanan rumah selama bertahun-tahun di Jakarta. Namun pelarangan dan pengawasan tidak menghentikan namanya dikenal dunia.
Karya-karyanya diterjemahkan ke banyak bahasa dan membuatnya beberapa kali disebut sebagai kandidat kuat peraih Nobel Sastra, meski penghargaan itu tidak pernah benar-benar datang.
Pramoedya meninggal di Jakarta pada tanggal 30 April 2006, dalam usia 81 tahun.
Tetapi hingga hari ini, tulisannya masih terus dibaca orang.
Sebab dalam banyak karya Pramoedya, orang tidak hanya menemukan sebuah cerita. Mereka juga menemukan sisi lain dari kehidupan, kritik terhadap kekuasaan, potongan sejarah yang hilang, dan suara mereka yang seringkali kalah oleh keadaan.
