Tangerang, TegakNews.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, tengah dievaluasi. Tim pengawas menemukan adanya pelanggaran prosedur, ketidaksesuaian kualitas makanan, serta beban produksi dapur umum yang melebihi kapasitas.
Temuan ini mencuat setelah adanya perbedaan antara dokumentasi menu yang dikirim pengelola ke Kantor Pusat MBG dengan menu riil yang diterima masyarakat pada Selasa, 19 Mei 2026.
Temuan di Lapangan
Berdasarkan pemantauan, menu yang disajikan kepada penerima manfaat dinilai tidak memenuhi standar gizi. Salah satu modifikasi yang disorot adalah penggunaan telur dadar, yang sebelumnya tidak direkomendasikan karena rawan dimanipulasi dengan campuran tepung.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Kampung Melayu Timur, M. Jalaludin, mendesak adanya klarifikasi resmi dari pengelola program.
“Kami meminta penjelasan menyeluruh terkait manipulasi menu ini. Jika tidak ada itikad baik, kami akan membawa persoalan ini ke Kantor MBG Pusat dan Kejaksaan Negeri Kabupaten Tangerang,” ujar Jalaludin.
Penyebab: Overload dan Pemotongan Prosedur
Koordinator Lapangan MBG Teluknaga, Ade Rahman Hakim, membenarkan adanya pemotongan tahapan masak. Ia mencontohkan menu “telur sate” seharga Rp15.000 yang seharusnya melalui proses pengukusan, pemotongan, penusukan, hingga penggorengan. Namun karena keterbatasan waktu, beberapa tahapan dilewati.
“Ditambah lagi, koki membuat saus tambahan sendiri menggunakan produk komersial yang tidak sesuai instruksi awal,” jelas Ade.
Faktor utama pemotongan prosedur ini adalah kelebihan beban. Data saat ini menunjukkan jumlah penerima manfaat di Teluknaga mencapai 3.446 anak di posyandu dan sekolah. Sementara kapasitas ideal 1 dapur umum hanya 2.500 porsi per hari, namun dipaksa memproduksi lebih dari 3.000 porsi.
Program MBG di wilayah ini dikelola oleh Yayasan Bahari Indonesia Emas yang ditunjuk pemerintah pusat.
Langkah Perbaikan dan Rincian Anggaran
Untuk mengatasi persoalan kapasitas, saat ini telah beroperasi 13 dapur umum. Ke depan, 15 dapur tambahan sedang dibangun agar distribusi dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat dengan kualitas terjaga.
Terkait anggaran, Ade merinci pembagian per porsi:
1. Paket Rp13.000 untuk Balita hingga SD Kelas 3: Rp8.000 bahan baku, Rp2.000 sewa, Rp3.000 operasional.
2. Paket Rp15.000 untuk SD Kelas 4 – SMA dan Ibu Hamil: Rp10.000 bahan baku, Rp2.000 sewa, Rp3.000 operasional.
Desakan Evaluasi dan Pengawasan
Di sisi lain, fungsi pengawasan dari ahli gizi Puskesmas Teluknaga juga disorot karena dinilai jarang melakukan pemantauan langsung ke dapur produksi.
Warga dan penerima manfaat mendesak agar evaluasi total segera dilakukan. Tujuannya agar program MBG berjalan transparan, sesuai standar gizi, dan benar-benar bermanfaat bagi anak-anak dan ibu hamil.
“MBG adalah program baik dari pemerintah. Tapi di lapangan harus dijaga mutunya. Jangan sampai niat baik ini tercoreng karena kelalaian prosedur,” tutup Jalaludin.
Hingga rilis ini diterbitkan, pihak Kantor Pusat MBG belum memberikan keterangan resmi.













